Jumat, 22 November 2013

TIPE-X-   Selamat Jalan




Terlalu lama engkau terkenang hancurkan diri

yang jauh tenggelam

lelah mencoba tuk lepaskan beban

kau beli mimpi semu tak berarti sendiri

tak mampu kau beranjak pergi

jalan yang panjang nanar kau tatap

tak lagi peduli semua yang terjadi

smakin dalam larut angan mu melayang

mimpimu hadirkan semua penantian

alunan hampa ajak kau bernyanyi di

akhirnya kau pun pergi... tak kembali

reff :

banyak sudah kisah yang tertinggal

kau buat jadi satu kenangan

seorang sahabat pergi tanpa tangis arungi mimpi

slamat jalan kawan cepatlah berlabuh

mimpi mu kini tlah kau dapati

tak ada lagi seorangpun yang menggangu kau bernyanyi
diam haru kuhanya sanggup mengingat

jelas bayangmu yang masih melekat

dalam kecewa ku hanya mampu katakan

tetaplah tersenyum karena itu jalan

yang telah kau pilih......

terbanglah...oh...terbanglah.....bersama pelangi

banyak sudah kisah yang tertinggal

kau buat jadi satu kenangan

seorang sahabat pergi tanpa tangis arungi mimpi

slamat jalan kawan cepatlah berlabuh

mimpi mu kini tlah kau dapati

tak ada lagi seorang pun yang menggangu kau bernyanyi

semoga dalam damai engkau mengerti arti dalam jalan yang

berarti hingga indah nya bias mentari tak lagi kau nikmati

slamat jalan kawan cepatlah berlabuh

mimpi mu kini tlah kau dapati

tak ada lagi seorang pun yang mengganggu kau bernyayi....




lagu tipe- x yang satu ini mewakiliku untuk mengenang masa muda yang penuh dengan semangat, ngumpul bareng, ketawa bareng bersama temen-temen cerita tentang masa depan sesuka hati. jika mengingat masa itu semua seperti berjalan tanpa beban, mengalir begitu lancarnya tanpa ada penghambat. bahkan seolah-olah takdir itu yang menentukan kita sendiri dengan seenaknya saja. namun sekarang, mungkin semua sahabatku sudah mulai merasakan hidup yang sesungguhnya, takdir yang sesungguhnya :)
buat sahabat-sahabatku selamat jalan, selamat menempuh jalan yang terbaik,
semoga kelak kita dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih baik, baik itu di dunia maupun di akherat
Amiin ya alloh

Teori - Teori Pengembangan Karir



David Tiedeman
Konsep kunci Tiedeman dalam pendekatan konselingnya terhadap perkembangan karir adalah self-development dalam pengertian yang luas. Fokus utamanya adalah perkembangan kognitif total individu dan proses pembuatan keputusan yang dihasilkannya. Menurut Tiedeman, perkembangan karir terjadi dalam proses perkembangan kognitif secara umum ketika individu mengatasi krisis egonya yang relevan. Dia yakin bahwa perkembangan identitas ego merupakan faktor yang sangat penting dalam proses perkembangan karir.
Tahapan perkembangan karir parallel dengan tahapan perkembangan menurut orientasi teori Erikson (1950) yang terdiri dari delapan krisis psikososial sebagai berikut:
a) Trust.
b) Autonomy.
c) Initiative.
d) Industry.
e) Identity.
f) Intimacy.
g) Generativity.
h) Ego integrity.

Self-in-situation, self-in-world, dan orientasi kerja berkembang pada saat individu mengatasi krisis psikososial dalam kehidupannya. Ketika ego identity berkembang, kemungkinan-kemungkinan pembuatan keputusan karir yang relevan juga berkembang. Akhirnya dalam pembuatan keputusan karir, individu mencapai suatu titik yang oleh Tiedeman disebut differentiation dan integration. Diferensiasi adalah proses mengevaluasi self atau self-in-world melalui pengidentifikasian dan studi tentang berbagai aspek okupasi. Proses ini kompleks dan unik untuk masing-masing individu, tergantung pada potensi biologis dan struktur social lingkungannya. Pada saat struktur kognitif individu berkembang, dorongan untuk mencapai diferensiasi pun terbentuk, secara fisiologis ataupun psikologis. Aktivitas dalam lingkungan individu, termasuk pendidikan formal, memberikan stimulasi eksternal.
Salah satu tujuan utama diferensiasi adalah untuk mengatasi krisis trust-mistrust (Erikson, 1950) yang terkait dengan dunia kerja. Tiedeman dan O’Hara (1963) berasumsi bahwa masyarakat dan individu senantiasa berusaha kea arah satu tujuan yang sama: untuk saling memberikan makna. Pada esensinya, individu berusaha untuk berintegrasi ke dalam masyarakat — khususnya ke dalam suatu karir — untuk mendapatkan penerimaan oleh para anggota bidang karir tersebut namun tetap mempertahankan sebagian dari individualitasnya. Jika keunikan individu memperoleh kesesuaian dengan keunikan dunia kerja, maka integrasi, sintesis, keberhasilan, dan kepuasan akan menyertainya. Menurut Tiedeman, teori pemilihan okupasi dan perkembangan vokasional belum mengeksplorasi bagaimana proses evolusi diferensiasi dan integrasi dapat diaplikasikan pada perkembangan karir. Oleh karena itu, dia telah mengkonseptualisasikan sebuah pola atau paradigma problem solving sebagai mekanisme pembuatan keputusan karir. Paradigma tersebut mencakup empat aspek antisipasi atau preokupasi (exploration, crystallization, choice, dan clarification) dan tiga aspek implementasi atau penyesuaian (induction, reformation, dan integration), yang dirangkum dalam table 2.6 berikut ini.


Tabel 2.6. Aspek Antisipasi, Preokupasi, Implementasi, dan Penyesuaian
Aspek Antisipasi atau Preokupasi Karakteristik Aspek Implementasi Karakteristik
Eksplorasi 1. Berpikir agak temporer dan induktif. 2. Kemungkinan tindakan dipertimbangkan berulang-ulang. 3. Melalui imaginasi, individu mengalami berbagai aktivitas dengan mengaitkan perasaan self dalam struktur atau premis tertentu. 4. Melalui proyeksi, individu mencari tujuan-tujuan tentatif. 5. Terdapat fokus pada perilaku masa depan dengan beberapa alternatif tindakan. 6. Merefleksikan aspirasi, kemampuan, minat, dan implikasi sosial di masa depan yang terkait dengan pilihan karir. Induksi 1. Dalam periode ini dimulai pengalaman interaksi sosial dan identifikasi karir. 2. Lebih jauh mengidentifikasi self dan mempertahankan self dalam sistem sosial karir. 3. Pada saat mengalami penerimaan dalam karir, bagian dari self berpadu dengan kelompok penerima. 4. Terdapat kemajuan dalam pencapaian tujuan individu tetapi dalam kerangka totalitas karir dengan tujuan sosialnya.
Kristalisasi 1. Asesmen terhadap berbagai alternatif terus dilakukan. 2. Mempertimbangkan beberapa alternatif. 3. Muncul beberapa alternatif pilihan. 4. Pilihan-pilihan tentatif mungkin direevaluasi dalam proses penilaian dan pengurutan. 5. Tujuan menjadi lebih pasti dan terbentuk tetapi ada kemungkinan untuk diubah. 6. Terdapat langkah yang pasti menuju stabilitas pemikiran. Reafirmasi 1. Kelompok karir memberikan pengakuan dan penerimaan sebagai anggota kelompok. 2. Terdapat ketegasan di pihak individu di dalam maupun di luar kelompok karir, yang diperkuat oleh kondisi baru. 3. Terdapat tindakan asertif dalam bentuk upaya meyakinkan orang lain agar menyesuaikan dengan pandangan diri individu dan ke arah penerimaan yang lebih baik terhadap tujuan yang sudah dimodifikasi.
Pilihan 1. Memilih satu tujuan yang pasti. 2. Terfokus pada perilaku tertentu yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Integrasi 1. Kompromi dalam tujuan dapat dicapai oleh individu pada saat dia berinteraksi dengan kelompok karir. 2. Objektivitas self dan kelompok karir diperoleh. 3. Terjadi identifikasi terhadap seorang anggota kelompok karir. 4. Kepuasan dengan suatu tindakan tercapai, sekurang-kurangnya untuk sementara.
Klarifikasi 1. Periode ini ditandai dengan klarifikasi lebih lanjut tentang self dalam posisi yang dipilih. 2. Pertimbangan lebih lanjut tentang posisi yang diantisipasi mengurangi keraguan terhadap keputusan karir. 3. Keyakinan yang lebih kuat terhadap keputusan karir dikembangkan. 4. Ini mengakhiri tahap antisipasi atau preokupasi. - -

Kontribusi utama dari teori Tiedeman dan O’Hara (1963) adalah fokus pada peningkatan kesadaran diri (self-awareness) sebagai faktor yang penting dan diperlukan dalam proses pembuatan keputusan. Perhatian diarahkan pada upaya mempengaruhi perubahan dan pertumbuhan melalui penyesuaian terhadap kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di dalam sistem sosial sebuah karir. Adaptasi dengan lingkungan kerja untuk mendapatkan afiliasi yang bermakna dengan kelompok sebaya juga mendapat penekanan. Teori ini mempunyai dampak yang penting terhadap proses pembuatan keputusan, tetapi dukungan data empiriknya masih sangat terbatas. Teori ini diformulasikan berdasarkan tahapan perkembangan menurut Erikson berdasarkan pengalaman vokasional lima orang laki-laki kulit putih.



Teori Gelatt
Gelatt memandang system nilai sebagai bagian penting dari proses pembuatan keputusan. Model pembuatan keputusan menurut Gelatt mengemukakan konsep tentang serangkaian keputusan (immediate, intermediate, dan future), yang menunjukkan bahwa pembuatan keputusan merupakan proses yang berkelanjutan.
Terdapat lima langkah dalam proses pembuatan keputusan menurut Gelatt:
1. Individu menyadari kebutuhannya untuk membuat keputusan dan selanjutnya menentukan tujuan.
2. Individu mengumpulkan data dan melakukan survey untuk melihat berbagai kemungkinan tindakan. Pengumpulan data dipandang sebagai salah satu langkah terpenting karena pengetahuan tentang berbagai kemungkinan alternative itu sangat relevan dalam proses pembuatan keputusan. Alternatif informasi memberikan pengetahuan yang esensial termasuk tentang pekerjaan, persyaratan pendidikan dan pelatihan yang dipergunakan dalam pembuatan keputusan karir.
3. Pemanfaatan data dalam menentukan rangkaian tindakan yang mungkin diambil dan hasil yang mungkin dicapai.
4. Mengestimasi baiknya hasil yang akan dicapai, yang ditentukan oleh system nilai yang dianut individu.
5. Mengevaluasi dan memilih sebuah keputusan, yang merupakan keputusan terminal atau keputusan investigatori. Kemudian individu mengevaluasi kembali hasil yang mungkin dicapai dengan keputusan itu dengan menggunakan system prediksi tertentu.

Model ini berimplikasi bahwa terdapat sekurang-kurangnya empat pertimbangan konseling yang penting sebagai berikut.
1. Pertama, Individu harus memiliki kesiapan untuk memulai proses pembuatan keputusan. Apakah konseli menyadari kebutuhannya untuk membuat keputusan? Apakah konseli sudah memiliki keterampilan untuk memanfaatkan sumber-sumber yang diperlukan dalam proses pembuatan keputusan?
2. Kedua, konseli harus memiliki self-knowledge. Apakah konseli sudah memiliki self-knowledge yang memadai tentang minat, kemampuan, nilai-nilai, dan pengalaman yang relevan? Apakah konseli memiliki keterampilan untuk mengaplikasikan pengetahuan ini untuk mempertimbangkan berbagai alternatif?
3. Ketiga, pengetahuan individu mengenai kesempatan pelatihan/pendidikan dan lingkungan, persyaratan dan tuntutan pekerjaan.
4. Keempat, konseli harus memahami proses pembuatan keputusan.

Teori Social-Learning tentang Pemilihan Karir
Penggunaan pendekatan teori social-learning dalam pemilihan karir telah dipelopori oleh Krumboltz, Mitchell, dan Gelatt (1975). Teori ini merupakan upaya untuk menyederhanakan proses pemilihan karir, terutama didasarkan atas peristiwa-peristiwa kehidupan yang berpengaruh terhadap penentuan pilihan karir. Dalam teori ini, proses perkembangan karir melibatkan empat faktor yaitu:
a) Warisan genetic dan kemampuan khusus.
b) Kondisi dan peristiwa lingkungan.
c) Pengalaman belajar.
d) Keterampilan pendekatan tugas.

Warisan genetic dan kemampuan khusus mencakup sejumlah kualitas bawaan yang dapat membatasi kesempatan karir individu. Kondisi dan peristiwa lingkungan dipandang sebagai faktor yang berpengaruh yang sering kali berada di luar control individu. Peristiwa-peristiwa dan keadaan tertentu di dalam lingkungan individu mempengaruhi perkembangan keterampilan, kegiatan, dan pilihan karir.
Faktor ketiga, pengalaman belajar, mencakup pengalaman belajar instrumental dan asosiatif. Pengalaman belajar instrumental adalah yang dipelajari individu melalui reaksi terhadap konsekuensi, tindakan yang hasilnya dapat langsung teramati, dan melalui reaksi orang lain. Konsekuensi kegiatan belajar dan pengaruhnya terhadap perencanaan dan perkembangan karir ditentukan terutama oleh reinforcement atau nonreinforcement kegiatan tersebut, warisan genetic individu, kemampuan dan keterampilan khususnya, dan tugas pekerjaan itu sendiri. Pengalaman belajar asosiatif mencakup reaksi negative dan positif terhadap pasangan situasi yang sebelumnya bersifat netral. Misalnya, pernyataan”semua politisi tidak jujur” dan “semua banker kaya” berpengaruh terhadap persepsi individu tentang okupasi ini. Asosiasi seperti ini dapat juga dipelajari melalui observasi, bacaan, dan film.
Faktor keempat, keterampilan pendekatan tugas (tasks approach skills), mencakup keterampilan-keterampilan yang sudah dikembangkan oleh individu, seperti keterampilan problem-solving, kebiasaan kerja, mental sets, respon emosional, dan respon kognitif. Keterampilan-keterampilan ini menentukan hasil masalah dan tugas yang dihadapi oleh individu. Tasks approach skills sering kali termodifikasi akibat pengalaman yang bagus maupun jelek.
Krumboltz et al. menekankan bahwa pengalaman belajar yang unik dari masing-masing individu selama hidupnya menyebabkan berkembangnya pengaruh-pengaruh primer yang mengarahkan pilihan karirnya. Pengaruh tersebut mencakup:
a) Penggeneralisasian self berdasarkan pengalaman dan kinerja yang terkait dengan standar yang dipelajari.
b) Keterampilan yang dipergunakan dalam menghadapi lingkungan.
c) Perilaku memasuki karir seperti melamar pekerjaan atau memilih lembaga pendidikan atau pelatihan.

Pembentukan keyakinan dan generalisasi individu merupakan hal yang sangat penting dalam model social-learning. Peranan konselor adalah menelusuri asumsi-asumsi dan keyakinan individu dan mengeksplorasi alternative keyakinan dan tindakan yang perlu dilakukan. Membantu individu memahami sepenuhnya validitas keyakinan individu merupakan komponen utama model social-learning. Secara spesifik, konselor sebaiknya berusaha mengatasi masalah-masalah berikut:
a) Individu mungkin tidak dapat mengakui bahwa masalah yang dihadapinya dapat diatasi (mereka berasumsi bahwa sebagian besar masalah merupakan bagian dari kehidupan yang normal dan tidak dapat diatasi).
b) Individu mungkin tidak dapat melakukan upaya yang dibutuhkan untuk membuat keputusan atau memecahkan masalah (mereka tidak banyak berusaha mengeksplorasi alternatif).
c) Individu mungkin tidak menyadari adanya alternative yang memuaskan (mereka melakukan overgeneralisasi asumsi yang salah).
d) Individu mungkin memilih alternative yang buruk atau alas an yang tidak tepat (individu tidak mampu mengevaluasi karir secara realistic karena keyakinan yang salah dan ekspektasi yang tidak relistik).
e) Individu mungkin mengalami kekecewaan dan kecemasan akibat persepsi bahwa mereka tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkannya (tujuannya mungkin tidak realistik atau konflik dengan tujuan lain).

Krumboltz et al. juga memberikan beberapa observasi untuk konseling karir sebagai berikut:
a) Pembuatan keputusan karir merupakan keterampilan yang dipelajari.
b) Individu yang mengaku telah melakukan pilihan karir memerlukan bantuan juga (pilihan karirnya mungkin telah dilakukan berdasarkan informasi yang tidak akurat dan alternative yang keliru).
c) Keberhasilan diukur berdasarkan keterampilan yang telah ditunjukkan mahasiswa dalam membuat keputusan (diperlukan evaluasi terhadap keterampilan membuat keputusan).
d) Klien berasal dari berbagai macam kelompok.
e) Klien tidak usah merasa bersalah jika mereka tidak yakin tentang karir apa yang harus dimasukinya.
f) Tidak ada satu okupasi yang dapat dipandang tepat untuk semua orang.



Rangkuman
1. Tiedeman mengkonseptualisasikan perkembangan karir sebagai sebuah proses diferensiasi identitas ego yang berkelanjutan, memproses tugas-tugas perkembangan, dan mengatasi krisis psikososial. Aktivitas-aktivitas tersebut dipersepsi dalam kerangka tahapan waktu. Keputusan karir dicapai melalui pola pemecahan masalah yang sistematik yang mencakup tujuh langkah:
a) Eksplorasi.
b) Kristalisasi.
c) Pilihan.
d) Klarifikasi.
e) Induksi.
f) Reafirmasi.
g) Integrasi.

2. Model pembuatan keputusan dari Gelatt mengilustrasikan bahwa pembuatan keputusan dan urutan proses pembuatan keputusan itu pada hakikatnya merupakan suatu siklus. Sistem nilai dipandang sebagai bagian penting dari proses pembuatan keputusan. Pengetahuan mengenai langkah-langkah proses pembuatan keputusan serta fleksibilitas yang diperlukan untuk menimbang berbagai alternative merupakan tujuan konseling yang penting menurut model ini.

sumber :http://d-tarsidi.blogspot.com/2007/10/teori-perkembangan-karir.html

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...